Dalam konteks keterlibatan generasi muda dalam politik, dr. Christian mengingatkan mahasiswa agar tidak bersikap apatis. Menurutnya, keterlibatan politik tidak selalu berarti harus masuk sebagai calon legislatif atau menduduki jabatan politik. Keterlibatan dapat dimulai dari keberanian berdiskusi, memahami kebijakan publik, mencermati rekam jejak calon pemimpin dan menggunakan hak politik secara bertanggung jawab. “Jangan apatis. Kalian harus mulai terlibat. Terlibat itu bukan berarti harus menjadi caleg. Terlibat itu artinya berani berdiskusi,” tegasnya.
dr. Christian menegaskan bahwa kepemimpinan merupakan amanah yang bersifat sementara. Karena itu, yang harus ditinggalkan bukan sekadar nama atau figur, melainkan sistem pemerintahan dan tata kelola yang dapat terus bekerja setelah kepemimpinan berganti. “Saya ingin meninggalkan legasi sistem pemerintahan yang baik, saya ingin meninggalkan sistem tata kelola manajemen ASN yang baik,” ungkapnya.
Dalam diskusi bersama forum IMM, Wali Kota menjelaskan dalam kondisi fiskal daerah yang terbatas, pemerintah harus mampu menetapkan prioritas dan menggunakan anggaran secara bijak. Pembangunan tidak cukup mengejar biaya murah, tetapi harus memperhitungkan kualitas, manfaat dan keberlanjutan. “Caranya adalah berhemat dan menggunakan anggaran dengan bijak,” jelasnya.
Ia juga menyinggung respons Pemerintah Kota Kupang terhadap bencana gempa di Flores. Menurutnya, kehadiran pemerintah dalam situasi kemanusiaan bukan sekadar soal bantuan, tetapi bentuk solidaritas sebagai sesama warga NTT.











Tidak ada Respon