Menurut Wali Kota, pemerintah tidak harus selalu menjadi satu-satunya sumber solusi. Pemerintah justru perlu membuka ruang agar ide-ide terbaik dari masyarakat dapat masuk dan diuji untuk kemudian diterapkan dalam kebijakan publik.
Semangat tersebut, katanya, merupakan bagian dari pola pemerintahan yang menempatkan masyarakat bukan sekadar sebagai objek pembangunan, tetapi sebagai mitra. “Pemerintah tidak harus selalu menjadi sumber solusi. Bisa saja solusi terbaik datang dari masyarakat, dari mahasiswa, dari komunitas, dari anak-anak muda,” katanya.
Ia menilai ruang seperti “Wali Kota Challenge” dapat menjadi jembatan antara kreativitas generasi muda dan kebutuhan nyata pembangunan Kota Kupang. “Kalau ada persoalan di kota, jangan hanya bilang pemerintah tidak bisa. Mari kita pikirkan bersama, apa solusinya. Kalau solusinya bagus dan bisa diterapkan, pemerintah akan pakai,” ujarnya.
Lebih jauh, dr. Christian mengatakan Pemerintah Kota Kupang perlu membangun ekosistem kepemudaan yang memungkinkan anak-anak muda berkembang sesuai potensi masing-masing. Ekosistem tersebut, antara lain melalui ruang kreatif, akses jejaring dan informasi, serta pendidikan yang relevan dengan kebutuhan daerah dan dunia kerja.
Pemerintah juga perlu melakukan pemetaan talenta generasi muda di berbagai bidang, mulai dari teknologi informasi, desain grafis, musik, olahraga hingga sektor kreatif lainnya.
Menurutnya, pembangunan sumber daya manusia tidak cukup hanya dengan menyediakan pendidikan formal. Pemerintah juga harus membantu anak muda menemukan potensi, membangun jejaring dan mendapatkan ruang untuk mengembangkan kemampuannya.











Tidak ada Respon